Tuesday , 12 December 2017
Home / Featured / Hi-Res ~ High Resolution Audio : Nyata atau Maya?
HiResAudio

Hi-Res ~ High Resolution Audio : Nyata atau Maya?

Biasanya kalo udah beberapa bulan atau minggu sekali, gw bakalan nyari-nyari lagu baru buat didengerin. Mampir di situs langganan, eh nongol postingan salah satu artis favorit. Tapi ada yang membuat gw langsung lebih fokus, pertama, kok albumnya sama sekali asing, kedua, ada cap (24/96) di belakangnya. Wah! Ternyata sekarang mereka rilis dalam format Hi-Res juga. Langsung dong gw sikat tanpa pikir panjang.

Oke, sebelum lanjut lebih jauh, mari kita berbagi ilmu. Apa sih itu Hi-Res Audio? Nah, istilah ini sebenarnya bukan baru, udah lama, tapi sekarang jadi tren lagi karena para raksasa elektronik sibuk promosi dengan jargon ini. SONY bisa jadi tersangka utamanya untuk soal marketing Hi-Res Audio ini karena fitur ini dibawa sampe ke produk smartphone Xperia mereka.

Hi-Res atau High Resolution Audio itu adalah teknologi suara atau dalam hal ini musik yang punya resolusi tinggi. Tolok ukur tinggi ini adalah lebih tinggi dari standar “biasa” musik yaitu format CD. Secara teknis, CD Audio itu punya spesifikasi 16-bit/44.1Khz. Jadi, spesifikasi audio diatas ini sekarang diakui sebagai Hi-Res Audio yang sebenarnya ga ada standar pastinya sih macam video gitu. Misalnya kalo video FullHD kan HARUS punya resolusi 1920×1080, di atas atau di bawah itu bukan FullHD namanya.

Nah, untuk Hi-Res Audio ini meskipun ada beberapa spesifikasi, tapi yg dianggap paling standar dan sering digunakan ada 2, yaitu 24-bit/96Khz dan 24-bit/192Khz. Lalu ada lagi yang bisa diperhatikan untuk format ini yaitu bitrate. Kalo untuk MP3, bitrate tertingginya adalah 320kbps, sementara CD Audio adalah 1411kbps, Hi-Res Audio punya bitrate jauh lebih tinggi, berkisar dari 4616 kbps sampai sekitar 9216kbps. Ini untuk mayoritas file dalam format FLAC, WAV, ALAC, dan AIFF. Ada satu lagi yaitu DSD tapi standar ini berbeda karena gelombang transmisi audionya tidak sama. Selengkapnya soal DSD ini bisa dibaca di sini.

Secara umum, untuk musik yang lebih”awam” biasanya file-nya dalam format FLAC. Toh sekarang hampir semua player bisa muter format ini. Tapi jangan keliru ya, soalnya audio yang non Hi-Res pun pakai format file ini, jadi pastikan jangan tertipu 😛 . Kebetulan gw ada lagu yang sama dengan dua format yang berbeda.

hi-res2

Kalo diliat dari spek dua file tadi, yang paling gampang terlihat adalah ukuran filenya. Yap, berlipat ganda. 😀 Kalo yang ga biasa pasti kaget, GILA satu lagu aja ratusan MB. Well, berkaca dari file-file video HD, yg begini harusnya ga usah heran 😛 . Kok bisa besar gitu, ya lihat aja bitrate dan spek format audionya. FYI, file DSD lebih besar lagi sizenya.

Lalu gimana cara menikmati Hi-Res Audio ini? Yang pertama tentu equipment alias peralatan audionya. Jadi biasanya kalo yg uda ada cap Hi-Res Audio itu uda pasti mendukung file audio ini atau gampangnya cek spesifikasi hardware audio, apakah sudah mendukung 24-bit/96khz dan-atau 24-bit/192khz karena cap/stiker Hi-Res itu lebih untuk marketing generasi baru.

Status player ketika memutar file Hi-Res
Status player ketika memutar file Hi-Res
Status ketika memutar file non Hi-Res
Status player ketika memutar file non Hi-Res

Trus kalo ngga support ga bisa dengerin donk? Bisa, tetap bisa diputer dan bersuara TAPI sinyalnya akan di downsample alias “disesuaikan” dengan kemampuan hardware tersebut misalnya ke 16/48 atau 16/44. Kehilangan kualitas? Pasti. Seberapa? tergantung sebagus apa kemampuan downsamplenya.

Bingung? ah, ga usah bingung, terakhir yang paling penting adalah KUPING alias TELINGA. Karena pada kenyataannya banyak yang ga bisa bedakan kok format audio Hi-Res dengan yg biasa. Bahkan ada juga yang ga bisa bedakan MP3 dengan FLAC 😛 . Jadi kalo ketika didengarkan ga ada bedanya, ga perlu pake Hi-Res Audio, ngga ngabisin resource juga kan jadinya? 😀

Gw sendiri secara pribadi milih-milih juga, soalnya ternyata ngga semua lagu gw bisa dengar beda nya (atau keuntungannya) pake Hi-Res Audio. Kalo terdengar hampir sama, gw stick to standard FLAC, bukan yg Hi-Res. Jadi apakah Hi-Res Audio gimmick? Ngga juga, karena memang beda hasilnya dan terkadang banget bedanya dan semua itu akhirnya kembali lagi ke penikmatnya.

About Karuna

A Tech and Gadget 'opreker', Full time internet surfer, WWE fan since '99, and big fan of Japanese pop culture.

One comment

  1. Bagi web untuk download hi-res nya dong om..sukurw ada yg gratisan..hehe..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *