Salah satu tren baru untuk smartphone di awal tahun ini adalah kamera resolusi tinggi. Nggak tanggung-tanggung, 48 Megapixel. Ini karena tahun lalu, SONY dan SAMSUNG mengumumkan kalau mereka sudah membuat sensor kamera dengan resolusi sebesar itu. Makanya di awal tahun ini kita mulai melihat smartphone yang sudah menggunakan sensor tersebut. Tapi untuk apa?

Seperti yang gw sebut di awal tadi, Sony dan Samsung sudah memproduksi sensor 48MP. Sony dengan IMX586 dan Samsung punya ISOCELL GM1. Keduanya bisa disebut serupa tapi tak sama, karena meskipun secara teknis sama-sama beresolusi 48 MP, masing-masing punya metode dan algoritma pememrosesan gambar yang berbeda.

Bagusan mana? Sementara ini karena belum banyak perbandingan langsung jadi anggap saja sama meskipun, tuning dan tweaking dari produsen smartphonenya sendiri akan berpengaruh besar terhadap hasil akhir fotonya.

Lalu apa saja device yang sudah menggunakan sensor 48MP untuk kameranya? Pertama adalah (Xiaomi) Redmi Note 7 yang mungkin sudah banyak yang tahu karena infonya sudah banyak dan sebentar lagi akan launching di Indonesia. Yang kedua adalah Honor View 20, ini belum tahu apakah akan hadir di Indonesia atau tidak tapi sudah diluncurkan.

Konon katanya masih ada lagi beberapa smartphone lainnya tapi sejauh ini baru 2 ini yang sudah siap untuk ‘dinikmati’. Menggiurkan sekali memang, smartphone dengan kamera 48MP, waw banget. Tapi ada catatan atau hal yang harus diketahui sistem kamera dari smartphone-smartphone ini.

Pertama, secara default, sebagai contoh, kamera Redmi Note 7 hanya menghasilkan foto beresolusi 12MP saja, kenapa? ini karena metode pixel binning yang dilakukan sensornya agar bisa memasukkan lebih banyak informasi (cahaya, warna dsb) ke dalam sensor. Gampangnya, lihat gambar di bawah ini dari presentasi Sony soal sensornya tersebut.

SIMAK JUGA >  [Hands On] ASUS ROG Zephyrus GX501 : Tipis dan Sadis

Sony (dan Samsung) mengklaim bahwa metode pixel binning yang mereka lakukan membuat sensor ini punya ukuran pixel 1,6 micron, lebih besar dari rata-rata sensor yang digunakan smartphone flagship sekarang yang umumnya berukuran 1,4 micron seperti Galaxy S9 atau Pixel 3.

Jadi, secara teori, sensor ini bisa menangkap cahaya lebih banyak terutama untuk kondisi low-light. Tapi sekali lagi, kita harus liat eksekusi real world-nya.

Terus gunanya resolusi 48MP untuk apa? Nah, pada kondisi optimal, misalnya siang hari, luar ruangan, foto 48MP bisa menghasilkan gambar yang lebih tajam dibandingkan dengan 12MP. Detail yang ditangkap akan lebih jelas.

Contoh diatas lagi-lagi diambil dari presentasi produknya Sony alias klaim produsen.

Kemudian tidak lupa soal SoC atau gampangnya prosesor smartphone. Saat ini yang mendukung kamera dengan resolusi setinggi itu secara teknis dan spesifikasi cuma Snapdragon 855, Snapdragon 675, dan MediaTek Helio P90. Nah menariknya, justru Redmi Note 7 hanya menggunakan Snapdragon 660 yang mana masuk kelas menengah dan tentu tidak mendukung kamera dengan resolusi 48MP.

Kok bisa? Redmi Note 7 hanya menghasilkan foto 12MP di mode Auto yang mana masih dalam kemampuan ISP (pemroses gambar) dari Snapdragon 660 sementara untuk mendapatkan foto dengan resolusi 48MP hanya bisa diaktifkan melalui mode Pro yang entah bagaimana Xiaomi bisa membuat S660 untuk mengolah gambar beresolusi tinggi tersebut.

Jadi sebenarnya smartphone dengan kamera 48MP ini gimmick doang apa gimana? Well, pada contoh Redmi Note 7, beberapa yang sudah pegang devicenya bilang lebih ke gimmick karena kemampuan sebenarnya tetap pada resolusi 12MP (di mode Auto). Tapi untungnya hasilnya cukup memuaskan di mode Auto 12MP tersebut, jadi setidaknya para penggunanya tidak kecewa karena pada akhirnya hasil akhir yang jadi penentu kan? 😀

SIMAK JUGA >  Xiaomi Note and Xiaomi Note Pro, not so affordable flagship from Xiaomi

Implementasi kamera 48MP ini menarik, karena dari contoh device awal yang sudah menggunakan, nampaknya membantu untuk bersaing dengan smartphone kelas atas yang biasanya memang menggunakan sensor yang lebih baik. Ingat, resolusi foto (jumlah megapiksel) tidak selalu jadi pegangan/tolok ukur kualitas foto, masih banyak hal lainnya.

Kita lihat saja nantinya bagaimana pada produsen mengimplementasikan sensor ini pada smartphone berikutnya.