Salah satu fitur yang jadi bahan ‘jualan’ produsen smartphone adalah kameranya. Mulai dari jago selfie, kamera banyak, sampai yang kameranya pintar. Wajar sih, karena apapun alasannya, kita sudah pasti bawa smartphone sehari-hari. Makanya sampai sekarang kamera smartphone masih jadi fitur yang dicari pengguna. Segitu kah?

Semakin canggihnya smartphone, kamera pada smartphone pun dirancang agar menjadi salah satu penyumbang poin dari label canggih atau high-end sebuah smartphone. Walaupun sebenarnya tidak harus smartphone level flagship untuk menghasilkan gambar yang bagus. Bahkan ada vendor smartphone yang pakai jargon “Flagship level / Flagship grade camera”. Hayo, tau nggak yang gw maksud? πŸ˜›

Makanya nggak heran kalau ada dan banyak yang pakai kamera smartphonenya untuk motret dan berbagi hasil terutama di Instagram. Banyak foto bagus yang “cuma” dihasilkan dari hape. Lalu kenapa hape? Alasannya sih bisa macam-macam, tapi menurut gw yang paling umum jawabannya pasti adalah gampang alias nggak ribet. Iya gw tau, ada juga kok yang sehari-hari nenteng kamera saku kelas premium dan lebih milih itu ketimbang pakai hape. Yah pilihan lah πŸ˜€

Berikutnya yang bisa jadi alasan adalah, hasil foto kamera hape sekarang nggak jelek kok. Betul, dan sejauh ini setau gw, ada beberapa smartphone yang kalau secara kelas berada di segmen menengah dan ke bawah, tapi kualitas foto yang dihasilkannya bagus.

Gw sempat iseng tanya ke salah seorang yang sering menggunakan kamera hapenya untuk memotret sehari-hari,

Alex (IG: @alexpangestu | https://roaden.wordpress.com/)

Ketika ditanya kenapa hape/smartphone? Dia menjawab

Karena hape yang sehari-hari dibawa.Β Gw nggak bawa kamera tiap hari

Masih banyak lagi yang sependapat dengan Alex, bahkan ada komunitasnya malah. Mereka menyebut dirinya gadgetgrapher, atau ada juga yang lebih spesifik ke pengguna merek tertentu misalΒ ZENFONEGRAPHY INDONESIAΒ atau iPhonesia buat yang pake gadget keluaran Apple.

β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”

Gw sendiri pakai smartphone yang pada dasarnya menyasar segmen menengah alias midrange tapi foto yang dihasilkan kameranya lebih dari kelasnya.

Yep, sesuai judul, beberapa bulan belakangan ini gw menenteng ASUS Zenfone 5Β (2018) sebagai daily driver gw. Iya, hape yang menyandang status gaib/ghoib di awal penjualannya karena susah banget untuk mendapatkan unitnya dengan benar πŸ˜€ (kalau dengan mahal, banyak πŸ˜› )

Aniwei, kurang lebih 6 bulan sejak launchingnya di Indonesia, Zenfone 5 ini masih sangat bisa bersaing di pasar. Gw nggak akan bahas banyak soal kinerja dsb karena harusnya sekarang sudah pada tau tentang spesifikasi dan hasil benchmarknya buat yang doyan main angka πŸ˜› .

Gw mau cerita soal kameranya, dengan sloganΒ (AI) Cameras that Think for YouΒ yang arti dan tujuannya menjelaskan kalau kameranya cerdas, ya begitulah, AI, teknologi dan jargon yang meledak sepanjang tahun ini. AI pada Zenfone 5 bertujuan mengoptimalkan hasil foto sesuai scene yang ingin kita potret. Sistem AI-nya ini mampu mengenali 16 jenis scene mulai dari makanan, hewan, tumbuhan sampai kondisi low-light.

Tapi sejujurnya gw nggak peduli mau AI mau nggak, yang penting hasil fotonya bagus. Kabar baiknya, kamera di Zenfone 5 ini memang bagus, bukan cuma marketing dan promosi doang. Sedikit teknikal, sensor yang digunakan Zenfone 5 bisa dibilang sensor kelas flagship, Sony IMX 363, punya ukuran pixel besar, 1.40 ΞΌm, ukuran fisik sensornya juga termasuk besar (1/2.55″). Bahasa sederhananya, kamera smartphone ini bisa menangkap cahaya lebih banyak plus sistem autofocus dual-pixel bikin kemampuan fokusnya lebih cepat dan akurat.

Sebuah tambahan yang sangat menarik adalah kamera kedua dengan lensa lebar. Secara teknis memang tidak secanggih kamera utamanya, tapi dalam kondisi optimal, memotret dalam format yang lebih lebar ini sesuatu yang menyenangkan.

Hasil foto-fotonya? Yah secara umum gw sih puas banget dengan kamera Zenfone 5. Hampir setiap kali gw pakai mode Auto sih, dan terlepas dari AI nya bekerja atau nggak, hasil fotonya diatas rata-rata. πŸ˜€

Buat jepret cepat atau sekedar jepret udah cukup banget, termasuk quick launch dari posisi smartphone standby pun sangat membantu.

Seperti biasa, seiring waktu berjalan, sudah pasti akan bermunculan alternatifnya. Memang, kalau sekarang dilihat di posisi pasar terutama harganya, sudah banyak saingan Zenfone 5. Terutama soal kameranya ya, terlepas dari spesifikasi lain. Dan hasil fotonya juga sudah bagus-bagus. Tapi gw tetap merasa kamera di Zenfone 5 merupakan satu paket lengkap. Sistem dual kamera yang lebih berguna (1 normal, 1 wide), sensor yang bagus, dan satu lagi, adanya OIS, fitur yang sering absen di beberapa smartphone.

Jadi, mungkin untuk sementara waktu gw masih akan stay sama Zenfone 5, sebagai smartphone sangat memadai, sebagai kamera buat dibawa jalan juga sangat oke. The best midranger? Probably πŸ˜€

 

 

SIMAK JUGA >  Smartphone Fullview Lokal : Nggak Pake Mahal