ASUS Zenfone 5 merupakan smartphone kelas menengah yang diluncurkan di Indonesia hampir satu tahun yang lalu. Sebagaimana mestinya untuk device yang tergolong baru, smartphone ini pun dapat update OS dari Android Oreo ke Pie alias versi 9.0. Lalu apa saja yang berubah? Peningkatan atau kemunduran? Mari disimak.

Kurang lebih 7 bulan gw menggunakan ASUS Zenfone 5. Selama itu kadang gw nggak sadar kalau pakai smartphone yang cuma masuk kelas menengah. Kenapa? karena memang tampilannya itu seperti smartphone mahal a.k.a kelas atas.

Yah tapi nggak semua positif sih, selama gw menggunakannya, meski tetap cakep, tanda atau ‘noda’ bekas keseharian menjadi bagian dari bodinya. No, bukan soal lecet karena jatuh, kepentok dan semacamnya tapi yang gw maksud adalah layar. Bagian yang memang paling gampang meninggalkan bekas karena, well, kaca. Tidak ada kaca yang tidak gores. Kecuali safir.

Jadi, gores-gores halus menodai layar dari Zenfone 5 ini. Kok nggak pakai anti gores? Nah, oleh karena itu gw mau bilang buat yang ingin layarnya awet mulus, PASANG ANTI GORES apapun jenis kaca layar smartphonenya. Trust me, sebelum menyesal. 😛

Sementara bagian belakangnya gw pakaikan case, tepatnya hardcase karena sebagaimana kita tahu kalau softcase gratisan tidak akan tahan lama jadi gw putuskan mending pakai hard case saja.

Oke sekarang lanjut ke dalaman alias bagian software. Yap, di awal 2019 ini Zenfone 5/5Z dapat update ke Android Pie. Setelah melakukan update sebesar ~1,3GB, akhirnya gw menikmati Android versi 9 di smartphone ini.

Hasilnya? Sebenarnya tidak terlalu banyak kalo dari sisi kosmetik, karena Android update biasanya lebih ke user experience, fitur dan performa. Buat perbandingan secara benchmark, berikut perbandingan antara Oreo dan Pie pada Zenfone 5. Gw uji pake Antutu dan Geekbench.

SIMAK JUGA >  Asus Zenfone 5 - See what Pixelmaster can do
Geekbench
Antutu Benchmark

Kalau dilihat secara angka, ada sesuatu yang menarik dari benchmark Antutu. Meski secara raw performance (CPU dan GPU) tidak terjadi perubahan, tapi skor pada UI dan MEM meningkat lumayan. Nampaknya optimalisasi Android Pie ada di 2 sektor tersebut yang berefek pada keseluruhan performa sistem lebih mulus lagi.

Soal fitur, ada yang berguna, ada juga yang malah aneh. Salah satu yang berguna adalah, sekarang ada tombol untuk melakukan rotasi layar manual sesuai konten. Ini sangat berguna apalagi buat pengguna dengan Orientation/Rotation Lock kayak gw.

Jadi biasanya kalau Orientation/Rotation Lock aktif, maka mayoritas tampilan di layar akan tetap tegak meskipun layar diputar-putar. Tapi terkadang kita ingin memutar konten tersebut, dan biasanya “terpaksa” kita matikan Orientation/Rotaion Lock nya bukan? Nah dengan Android Pie, hal itu tidak perlu lagi, karena di navigation bar bawah akan muncul tombol putar secara otomatis setiap kali sistem mendeteksi kita sedang mengubah orientasi layar (portrait ke landscape atau sebaliknya). Agak susah dijelaskan tapi semoga mengerti 😀

Fitur “baru” lainnya adalah seperti tampilan recent apps yang sekarang bentuknya portrait ke samping, bukan bertumpuk ke atas seperti arsip.

Fitur lain yang nggak gw pakai adalah gesture navigation dan tombol navigasi baru ala Android Pie. Itu lho, yang tombolnya berubah jadi bar tunggal di bawah. Bar kecil ini bisa digeser-geser buat berpindah aplikasi pada Recent Apps bergaya kartu halaman tadi di atas.

Yang paling agak nyebelin dari update Pie ini adalah kontrol volume. Oke, pertama, layoutnya udah beda, sekarang lokasinya di samping, dekat tombol volumenya beneran. Tapi gw ngerasa skala volumenya ngaco, artinya, pada posisi bar setengah, suaranya kecil. Untuk mencapai posisi volume setengah pada skala volume di Oreo dulu butuh sekitar 70% di Android Pie ini. Keluaran suaranya tetap sama keras, cuman skala step-by-step pembesaran volumenya saja yg ngaco. Oh btw, sekarang secara default kalo dipencet, yg diatur ada volume Media bukan lagi Notif/Ringtone kayak di Android Oreo.

SIMAK JUGA >  [Log] ASUS The Edge of Beyond : Makin tipis, makin asik

Lalu, entah perasaan gw doang atau nggak, efek stereo nya agak berkurang karena ternyata volume speaker earpiece (atas) atau biasa jadi speaker kiri pada posisi landscape mengecil sedikit. Apakah keputusan ini dibuat oleh ASUS agar tidak rusak, dan tetap berfungsi untuk menelepon atau gimana, entahlah. Kita tunggu saja seperti apa nanti di update berikutnya.

Bagaimana dengan kamera?

Normal, lancar, tidak ada bug di aplikasi, dan hasil fotonya masih sama. Tetap bagus dan bisa diandalkan. Buat yang penasaran kesaktian kamera Zenfone 5 bisa baca review gw disini.

Terakhir yang mau gw bahas adalah baterai. Tidak ada angka pastinya, tapi sejak Android Pie, Zenfone 5 ini jadi sedikit lebih irit. Walaupun sebenarnya gw merasa kadang ada notif yang agak telat masuk. Mungkin efek dari Adaptive Battery yang menyesuaikan aplikasi untuk menghemat baterai.

Verdict

Pada saat gw bikin artikel ini, rumor dan bocoran Zenfone 6 sudah mulai bermunculan. Dan menjelang kemunculan generasi penerusnya, Zenfone 5 masih mejadi salah satu smartphone kelas menengah yang menggoda. Memang, Asus sendiri punya ‘lawan’nya di kelas harga ini. Tapi menurut gw, dari segi desain, konstruksi, tampang, dan tentunya, kamera, Asus Zenfone 5 masih layak dilirik. Performanya pun masih sangat bisa diandalkan terutama setelah update Android Pie terasa lebih mulus. Jadi dengan semakin banyaknya pilihan di kelas harga 3-jutaan, Asus Zenfone 5 bisa dimasukkan ke daftar pertimbangan.