Reviews

[Review] ASUS ZenEar : Ramah di telinga dan kantong

Kalo ada satu hal yang menarik, atau sebut saja tren, dari para vendor gadget adalah mereka meluncurkan jenis produk yang sama antar satu sama lain. Katanya, ide/inspirasi boleh sama, tapi hasil akhirnya kan beda. Nah kali ini gw nyobain earphone/headset dari ASUS. Mari kita coba-coba

Sebut saja ZenEar, nama asli bukan disamarkan. ASUS ZenEar ini itungannya adalah aksesoris buat smartphone dan tabletnya, Zenfone, Zenpad dan Padfone. Jadi, lebih ke headset ketimbang earphone konvensional karena ada mic-nya. Dan lagi, ZenEar ini ada 2 macam, ZenEar “polos” yang gw cobain disini, sama ZenEar S yang lebih premium (baca : mahal) yang MUNGKIN NANTI bisa gw cobain juga. 😛

Terus kalo kalian berpikir, ASUS kok bikin produk ginian sih atau lebih tepatnya urusan suara/Audio. FYI ajah, ASUS udah ngga asing soal audio, kalo yang main PC Component, pasti tau jajaran Sound Card Xonar yang punya nama di kalangan penggemar audio. Jadi sejujurnya, gw punya ekspektasi agak lebih sama ZenEar.

Langsung ke produknya, paketnya ngga banyak ba-bi-bu, langsung to the point, headset dan karet earbud buat menyesuaikan ukuran lubang telinga.

Dan disinilah keluhan pertama gw muncul. Bahan eartips nya memang lembut TAPI jenisnya karet silicon yang agak lengket itu. Jadi belum apa-apa sudah nempel titik-titik debu dari jari, dan gw pake selotip buat cabut debu-debu kecil tadi yg nempel.

Secara desain, ZenEar build quality nya bagus dengan desain khas line-up produk Zen nya ASUS circular metal yang pake proses CNC. Sementara nozzle IEM agak angled alias dimiringkan sedikit sesuai kontur lubang telinga jadi suara yang dihasilkan lebih maksimal karena langsung “nembak” ke dalam.

SIMAK JUGA >  [Review] Asus ZenPower Pro : Dengan tambahan fitur 'Pro'

Lalu gimana rasanya waktu dipakai, well, gw bisa bilang ZenEar ini termasuk salah satu IEM yang nyaman dipakai, karena desain angled-nya itu tadi berasa natural aja gitu masuk ke lubang telinga tanpa harus di sesuaikan lagi kaya ada beberapa IEM lain yang harus bener-bener masukinnya ke telinga kalo ngga, ngga nyaman dan suaranya ngga optimal.

Satu hal unik (atau janggal) adalah, pada ZenEar ini, posisi mic berada di kanan, tidak seperti headset kebanyakan yang mic nya di kiri. Tidak masalah sih sebenarnya, cuman berasa aneh aja “beban” ekstra nya ada di sebelah kanan. Tombol di mic nya ini berfungsi dengan baik bahkan di iOS, pencet sekali buat play/pause, dua kali buat next track. Fungsional lah 😀

Maka sampailah kita ke bagian yang paling penting, suaranya gimana? Nah mari lanjut ke halaman berikutnya

[nextpage title=”Kualitas suara”]

Kualitas Suara

Karena ditujukan pada pengguna gadget yang sekarang ini banyak dipakai buat dengerin musik/nonton video, jadi gw juga nyobain ini pake smartphone aja. Salah satunya adalah Zenfone Selfie, yang menurut gw pribadi suaranya lebih baik dibanding Zenfone 2.

Pada kondisi out-of-the-box alias baru keluar kotak, ZenEar menghadirkan tonal yang asik. Yang langsung menarik perhatian gw adalah nada rendah-nya alias bass. Bass-nya empuk tapi malah terlalu empuk sehingga extra gaung yang biasa terdengar saat hantaman nada rendah tidak terasa, cenderung hilang.

Sementara untuk midrange/nada tengah cukup solid, ketukan senar drum padat, begitu juga dengan vokal. Nada-nada atas pun direpro dengan baik, cukup lepas dan renyah seperti petikan senar string ataupun pukulan cymbal.

Oke, awalnya gw kurang puas dengan suaranya, kemudian gw putuskan untuk melakukan burn-in dan setelah kurang lebih 70 jam burn-in (iya, ZenEar ini uda cukup lama gw terima dan gw biarin nyala alias burn-in di lemari 😛 ) inilah hasilnya.

SIMAK JUGA >  [Uji] Sekencang Apa Charger 27W Untuk Smartphone?

Ternyata nada rendahnya ngga banyak berubah, tetep empuk sih buat dentuman dan cukup presisi buat betotan dan petikan senar bass. Tapi gw tetep berasa kentang alias kurang greget bahasa kerennya “Missing extra oommpphh…” dan abis baca punya baca, katanya ZenEar ini pake damping system alias peredam buat konstruksinya jadi yah bisa jadi ini penyebabnya.

Sektor mid dan high nya jadi lebih baik setelah burn-in, paling terasa sih mid nya, jadi lebih warm, tapi highnya tetap sparkling dan lepas, cuman sesekali berasa agak tipis tergantung lagu. Yang gw sayangkan adalah staging-nya ngga berubah, ngga jelek tapi ya segitu aja, cukupan lah itungannya walaupun sebenarnya separasi ZenEar ini tergolong bagus.

Overall gw cukup impress dengan ASUS ZenEar ini, apalagi mengingat harganya yang terbilang murah, masuk kategori kere-hore alias murah meriah. Bisa jadi alternatif buat yang nyari headset bagus buat dengerin musik atau nonton video atau bahkan main game di gadgetnya.