SonicGear kembali lagi dengan produk speaker multimedia mereka. Jajaran seri Space ini punya 1 konsep utama, hemat tempat, sesuai namanya mungkin, Space. Kali ini gw kedatangan model paling mungil dari seri Space. Let’s see bisa apa si Space 3 ini.

Buat angkatan lama (kayak gw πŸ˜› ) nama SonicGear di dunia speaker multimedia sudah pasti tidak asing. Sebagai salah satu pemain lama yang masih bertahan, produk SonicGear memang selalu bersaing terutama di segi value-nya. Jadi ketika tahu kalau mereka meluncurkan produk baru untuk jajaran speaker multimedia, gw cukup excited.

Seri Space dari SonicGear ini ditujukan buat yang ingin speaker bagus tapi nggak punya banyak tempat terutama di meja PC / Laptop nya. Jajaran Space punya 3 model, Space 3, Space 5 dan Space 7. Kalau liat dari info produk di website nya sih, bedanya tentu pertama di kekuatan keluaran suaranya, kedua ada di fitur-fitur ekstra lain.

Tapi persamaan dari semua model Space ini adalah desain yang kompak terutama untuk unit subwoofer-nya. Lalu persamaan berikutnya, semua model seri Space ini sudah mendukung konektivitas Bluetooth, semacam harus lah ya zaman sekarang ini πŸ˜€

Oke langsung saja, ini lah SonicGear Space 3, varian terbawah, termungil dan tentunya termurah πŸ˜›

Impresi pertama pas buka kotaknya, oke, ini cukup kecil dan hemat tempat. Tapi yang bikin gw cukup impress adalah subwoofernya yang terasa solid dengan konstruksi kayunya. Sementara unit satelitnya terbuat dari plastik tapi kualitasnya baik. Overall tampangnya cakep lah.

Dan sesuai “janji” SonicGear, si Space 3 ini memang termasuk kecil, bahkan unit subwoofernya tidak lebih tinggi dari botol air mineral. Jadi sepertinya semua unit speakernya ini bisa dengan mudah diselipkan diantara barang-barang di meja kerja atau bisa juga di meja komputer di kamar.

Saatnya setup untuk uji dengar. Dan keluhan pertama muncul, tidak ada penanda kiri/kanan pada unit satelitnya πŸ™ . Satu-satunya cara menentukan mana satelit kiri/kanan adalah dengan mencocokkan warna kabel ke unit subwoofer. Putih untuk kiri dan merah untuk kanan.

SIMAK JUGA >  [Review] Asus ZenPower Pro : Dengan tambahan fitur 'Pro'

Kabel satelitnya sendiri cukup panjang jadi subwoofernya bisa kalau mau ditaruh di bawah meja yang kemudian mendatangkan problem berikutnya. Semua pengaturan berada di unit subwoofer yang berupa tombol power, tombol mode, volume dan pengaturan level bass. Kenapa ini problem? Karena ternyata Space 3 tidak menyimpan settingan pilihan mode, artinya setiap kali dimatikan, secara default dia akan berada pada mode Bluetooth. Ini jadi masalah kalau speaker ini digunakan sebagai speaker multimedia konvensional dengan kabel 3.5mm, karena kita harus menekan tombol untuk mengganti mode. Lampu akan berganti dari biru ke hijau menandakan sudah berpindah mode input. Solusi, letakkan di atas meja yang kemudian tidak sesuai filosofinya karena jadi makan tempat. Bingung? gw juga πŸ˜›

Setelah selesai setup, saatnya mendengarkan kualitas suaranya.

Dengan mengatur level bass setengah dan volume setengah juga, gw coba memutar beberapa lagu yang biasa gw dengar. Impresi pertama suaranya, V-shape yah. Nggak terlalu ekstrim tapi berasa kalau tuning suaranya V-Shape yang artinya treble dan bass nya dibuat lebih dominan. Biasanya karakter begini memang lebih bisa ‘diterima’ tapi bagi gw tuningan seperti ini berefek pada musik slow, karena jadi agak kurang sip terutama karena kadang vokal terdengar kurang bulat dan agak mundur. Pindah ke genre pop-rock, Space 3 terdengar lebih enak. Btw, tenaganya juga gede lho, total power sistem ini adalah 20W sudah sangat cukup buat mengisi ruangan kamar atau ruang kerja ukuran sedang.

Gw coba memainkan level bass pada unit subwoofernya untuk mendapatkan suara keseluruhan yang lebih balance dan nampaknya pada level setengah lebih sedikit adalah yang paling pas. Karena ketika dimentokin alias pada level bass maksimum, suaranya jadi berantakan karena driver subwoofer 3.5 inci ini tentu tidak sanggup untuk menghadirkan bass yang menghantam alias mulai kewalahan.Β Tapi sejujurnya gw cukup impress dengan suara dari Space 3 ini terutama nada rendahnya. Memang tidak bisa bikin bergetar, tapi bass yang dihasilkan sudah lebih dari cukup untuk mengisi dan mengimbangi tonal lainnya meskipun treblenya agak tinggi yang membuat suara terkesan agak kering meski tidak sampai menyerang. Sayangnya tidak ada pengaturan untuk treble sehingga kita tidak bisa ‘menjinakkan’ nada atasnya tersebut.

SIMAK JUGA >  Unik, Android O akan meluncur pas gerhana matahari total?

Yang unik, ternyata koneksi bluetooth nya lebih nge-bass dibandingkan dengan koneksi Aux 3.5mm nya. Awalnya kirain perasaan gw saja, tapi lalu gw coba beberapa device untuk meyakinkan hal ini dan memang benar. Hanya saja perbedaannya sedikit saja sehingga mostly nggak bakalan terlalu notis lah πŸ˜€ Overall karakter suara dari Space 3 terbilang fun, sangat bisa untuk menemani keseharian di depan meja atau mungkin lagi santai di kamar.

Final Verdict

Jadi, apakah SonicGear Space 3 ini sesuai konsep? Secara umum iya, hanya saja beberapa minus soal fungsionalitas membuatnya terasa kurang efektif. Karena terbukti dengan meletakkan unit subwoofer di bawah meja, bisa menghasilkan suara yang lebih baik. Tapi kemudian akan terbentur masalah yang tadi gw jabarkan diatas. Nah kalau problem tersebut tidak terlalu mengganggu bagi Anda, Space 3 merupakan speaker yang menarik.

 

Spesifikasi:

Satellite

  • Driver size: 2×2” full range
  • Output power : 2 X 5W

Subwoofer

  • Driver size 3.5”
  • Output power (RMS) : 10W
  • Frequency range : 70Hz-18KHz
  • Total system power : 20W
72 100 1
72%
Average Rating

SonicGear Space 3

Speaker dengan konsep yang menarik dari SonicGear. Mengedepankan ukuran kompak tapi tetap bisa menghasilkan suara yang bagus. Sayangnya ada beberapa hal minus soal fungionalitas dan kemudahan penggunaan. Untungnya hal tersebut tidak terlalu berpengaruh pada suara yang dihasilkannya sehingga speaker ini bisa coba dilirik kalau butuh pendamping perangkat Anda dengan ruang peletakan yang terbatas.

  • Overall
    72%